Agus Salim : Si Rendah Hati dengan 7 Bahasa Asing

Agus Salim : Si Rendah Hati dengan 7 Bahasa Asing


Waktu masih anak-anak dulu, saya tidak tahu, kenapa ada jalan bernama Jalan Haji Agus Salim dan jalan tersebut adalah jalan protokol, jalan utama di kota Balikpapan. Saya pun menemui hal yang sama di kota Samarinda.

“Pasti ini orang penting, makanya namanya diabadikan menjadi nama jalan arteri, jalan utama,” pikir saya.

Saya pun mencari tahu siapa itu Agus Salim. Menelusuri lewat buku-buku perpustakaan dan googling di internet.

Hasil?

Saya menjadi tahu kalau Haji Agus Salim adalah menteri luar negeri Indonesia yang pertama, dan peranannya sangat vital dalam meraih dan terutama mempertahankan kemerdekaan negara tercinta kita ini.

Setelah wira-wiri ke berbagai sumber, saya menarik ada tiga hal yang menarik dari sosok Haji Agus Salim.

Pertama – Menguasai 7 bahasa asing

Saya saja sulit menguasai satu, lah ini tujuh bahasa asing, yaitu Belanda, Inggris, Jerman, Perancis, Arab, Turki, dan Jepang.

Dan bukan sekedarnya saja, namun fasih. Kadang-kadang ada orang yang hanya lihai berbicara, namun lemah dalam menulis; atau sebaliknya, lihai menulis, tapi lemah dalam berbicara.

Agus Salim bukan sekedar lihai berbicara, namun juga piawai dalam menulis pidato dalam bahasa-bahasa asing tersebut.

Anda bisa menguasai banyak bahasa seperti Agus Salim, yaitu dengan cara mempraktekkannya, bukan cuma sekedar belajar tata bahasa, namun miskin dalam praktek bicara dan menulis.

Saya miris, karena di sekolah-sekolah sekarang ini, hasil dalam bentuk nilai ujian tulis lebih prioritas dibanding hasil dalam bentuk kemampuan dalam berbahasa Inggris. Padahal, percuma mendapat nilai bagus di rapor, tapi waktu ditanya dalam bahasa Inggris, cuma planga-plongo.

Kedua – Mendidik anak dengan istri di rumah (homeschooling). Tidak menyekolahkan putra-putri di sekolah belanda.

Meskipun Agus Salim bersekolah di sekolah kolonial belanda, namun mungkin karena kekecewaan beliau yang tidak diterima di sekolah kedokteran di Belanda, meskipun dia lulusan terbaik Hogere Buger School (HBS), setingkat SMA. Alasan? Karena dia orang Indonesia, bukan Belanda.

Haji Agus Salim beserta istri, mereka mendidik tujuh anaknya di rumah. Hanya anak ke delapan, yang bungsu, Mansur Abdurrahman Sidik, yang mengenyam pendidikan formal, karena Indonesia sudah merdeka waktu anak itu sudah cukup umur untuk bersekolah.

Kenapa Agus Salim mendidik ketujuh anaknya di rumah? Mungkin karena trauma tidak diterima di sekolah kedokteran Belanda tadi dengan alasan sebab dia orang Indonesia, sehingga dia tidak ingin anak-anaknya berada dalam keadaan yang sama sepertinya. Diperlakukan rendah oleh penjajah.

Belajar bagi Agus Salim bisa di mana saja. Tidak mesti harus di ruang kelas di sekolah konvensional pada umumnya. Mereka bisa belajar dimana saja, dengan santai, tidak ada ketegangan seperti yang ada di ruang kelas konvensional di sekolah.

Uniknya, Agus Salim beserta istri mendidik putra-putri mereka dengan pendekatan bercerita, ada unsur bermain, dan disesuaikan dengan kehidupan sehari-hari. Sangat berbeda dengan di sekolah formal ya ^_^.

Yang juga sangat berbeda jauh adalah kebebasan untuk berekspresi, mengutarakan pendapat kalau tak sependapat dengan lawan bicara. Tidak jadi gelas yang mau diisi apa saja. Dalam hal ini, daya kritis mereka didorong untuk keluar. Tidak takut untuk mengutarakan pendapat kalau tidak sepaham dengan opini orang lain. Sayangnya, di pendidikan formal saat ini, kesan ‘menyuapi’ masih kental, meskipun katanya sudah fokus pada pendidikan karakter, tapi masih jauh panggang dari api. Teori tidak berbanding lurus dengan implementasi.

Ketiga – Menumbuhkan minat membaca pada anak

Kalau orangtua suka membaca, bisa dipastikan anak pun suka membaca juga. Agus Salim adalah pembaca yang ‘rakus’. Koleksi buku-bukunya sangatlah banyak, dan sebagian besar berbahasa asing, karena kebanyakan buku-buku itu yang tersedia.

Tak heran, Agus Salim menguasai banyak bahasa asing, karena kebiasaan membaca buku-buku yang juga berbahasa asing. Kebiasaan membaca ini juga menurun pada anak-anak beliau, sehingga putra-putrinya bisa berbahasa asing dengan fasih, baik secara lisan maupun tulisan.

Anda bisa mencari sendiri di internet perihal anak-anak Agus Salim semisal Theodora Atia alias Dolly dan Yusuf Taufik atau Totok yang bisa mengimbangi urun pendapat dengan Mohammad Roem, salah satu tokoh pergerakan nasional tentang pengetahuan yang diajarkan di sekolah tingkat atas.

Sebetulnya, di sekolah-sekolah formal, sudah digiatkan semangat literasi dengan membaca buku sekitar 10 sampai 15 menit di awal pelajaran. Itu adalah langkah yang bagus untuk memupuk kebiasaan gemar membaca, namun memang tidak cukup hanya di sekolah. Rumah haruslah yang menjadi pelopor utama semangat gemar membaca setiap hari agar wawasan generasi muda bisa terbuka luas seperti halnya putra-putri Agus Salim ini.

Akhir kata, bukan hanya Agus Salim yang bisa menguasai lebih dari satu bahasa asing. Mohammad Hatta, Soekarno, dan beberapa orang di jaman ini juga ada yang punya kemampuan tidak kalah hebatnya.

Namun, yang saya kagumi dari sosok beliau, yang berhubungan dengan pendidikan adalah beliau mewariskan kerajinan, kedisiplinan, kecintaan akan buku, nilai-nilai keluhuran dan moralitas ke putra-putrinya dengan mengambil peranan langsung mendidik putra-putrinya, tanpa ragu-ragu, bersama istri, padahal beliau sendiri sangatlah sibuk dengan urusan negara yang tidak sedikit.

Namun, hasil didikannya nyata. Semua orang bisa melihatnya. Padahal anak-anak beliau tidak menempuh pendidikan formal. Ini menunjukkan kalau untuk menjadi berhasil, sekolah bukan satu-satunya tempat. Rumah atau tempat apa pun bisa menjadi tempat pembelajaran. Asalkan dua hal ini yang harus dipenuhi :

  1. Bagaimana mendidik anak-anak itu sehingga mereka bisa, bukan saja memahami, namun juga bisa menerapkan dalam kehidupan sehari-hari, dan
  2. Guru yang betul-betul mempunyai dedikasi dan kompetensi yang mumpuni, bukan sekedar punya gelar panjang kayak kereta api, tapi ujung-ujungnya tak mengerti bagaimana mentransfer ilmu dan kemampuan pada peserta didik.

Agus Salim mempunyai dua hal ini.

Dia tahu cara mendidik anak-anaknya dengan santai, tapi tetap terarah dan bebas berkreasi.

Dia juga punya dedikasi tinggi untuk mendidik putra-putrinya sehingga mereka berhasil, dan juga punya wawasan yang luas akan ilmu dan hikmat kebijaksanaan, sehingga anak-anaknya mempunyai kapabilitas prima untuk bangsa dan negara, juga tidak mempermalukan Agus Salim dan istri, selaku orangtua yang mendidik mereka.

Dan, yang terutama dari kesemua kisah heroik Agus Salim adalah beliau rendah hati. Padahal dengan kepintaran yang dia punya, ketenaran yang dia peroleh, dia bisa memperoleh kekayaan dan kedudukan yang lebih tinggi di Indonesia. Namun dia, sampai akhir hidupnya, tetaplah Agus Salim yang sederhana dan rendah hati.

Kiranya, Anda semua bisa memetik manfaat setelah membaca tentang tokoh inspiratif kita kali ini.

Salam hangat untuk Anda semua.

‘Cara Mendidik dan Guru yang Tepat. Ibarat dua sisi mata uang yang tak terpisahkan yang terdapat pada diri Agus Salim. Bagaimana dengan Anda sebagai orangtua? Apakah Anda sudah mempunyai dua sisi ini? Anda sendirilah yang bisa menjawabnya ^_^’

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *