Selalu Gagal? Dengan 3 Kunci Sukses Edison, Kamu Akan Berhasil

Selalu Gagal? Dengan 3 Kunci Sukses Edison, Kamu Akan Berhasil


Salah satu tokoh yang sangat saya kagumi sejak kecil adalah Thomas Alva Edison.

Saya mengetahui tokoh fenomenal ini dari buku biografi, atau lebih tepatnya buku kumpulan biografi orang-orang ternama kepunyaan kakak saya.

Mulai dari Abraham Lincoln, Benjamin Franklin, George Washington Carver, Michael Faraday, dan lain sebagainya.

Namun, Thomas Alva Edison adalah salah satu favorit saya. Selain karena latar belakang tak berpunya (kurang lebih sama dengan saya ^_^), juga karena ada nilai-nilai yang dia punya yang sangat unik untuk dijadikan teladan dalam hidup, baik sebagai pengusaha, maupun pembelajar. Dalam hal ini peserta didik di sekolah dan perguruan tinggi dapat belajar dari sosok ini.

Saya menyimpulkan sedikitnya ada tiga kunci sukses yang saya dapat dari figur fenomenal Thomas Alva Edison. Apabila saya mengalami berbagai kegagalan, tiga kunci ini selalu mendorong saya untuk terus maju.

Pertama, Tidak belajar di sekolah formal tidak berarti orang tersebut tidak akan berhasil di masa depan.

Saya melihat hal ini sebagai sesuatu yang luar biasa. Di Indonesia, kebanyakan masyarakat mengagungkan predikat sarjana, sehingga bagi mereka (dan juga saya dulunya), memegang titel sarjana berarti memegang kunci menuju kesuksesan nantinya.

Padahal tidak seperti itu keadaannya. Malahan banyak yang menganggur, melamar kerja kemana-mana tidak diterima, meskipun bertitel S-3 dan mempunyai nilai aduhai tingginya.

Mereka kebanyakan hanya berusaha untuk mencari kerja, tidak menciptakan lapangan kerja untuk diri mereka sendiri dan juga orang lain.

Edison memberikan contoh yang luar biasa dari seorang yang tidak punya ijazah SD sekalipun, namun bisa ‘menampar’ orang-orang yang mempunyai gelar sarjana, yang setelah wisuda, malah sibuk cari kerja.

Edison, dengan segala kekurangannya, malah ‘memecut’ diri untuk terus berusaha, belajar dengan bimbingan ibunya yang mantan guru. Ibunya mengeluarkan Edison dari sekolah karena guru sekolah mengatakan kalau Edison ‘berotak udang’ dan mengambil keputusan untuk mendidik anak di rumah atau istilah sekarang itu Homeschooling.

Ternyata, meskipun tidak menempuh pendidikan formal, Edison sangat produktif dalam menciptakan produk yang sangat vital sampai saat ini, yaitu lampu listrik.

Kedua, Terus melakukan praktek dari teori-teori yang sudah ada

Minat baca yang sangat besar, sampai-sampai pernah membaca buku-buku bermeter-meter di perpustakaan (Saya lupa berapa meter pastinya, karena buku biografinya sudah hilang. Mungkin sekitar lima meter. Cari di internet tidak ketemu juga berapa meter buku yang Edison sudah baca ^_^.). Begitu rajin dan laparnya Edison akan ilmu, dan itu menjadi modal bagi dia untuk menciptakan inovasi-inovasi yang bejibun kemudian.

Teori akan tetap menjadi teori kalau tidak ada action. Edison bukan hanya menjadi pembaca pasif, namun dari buku-buku yang dibacanya, dia menjadi pembaca yang aktif menerapkan ilmu-ilmu yang didapat dari buku-buku itu untuk menciptakan lampu listrik, fonograf, dan lain sebagainya.

Membaca bukan pekerjaan pasif bagi Edison, namun aktif, karena ilmu-ilmu yang didapat bukan menjadi sampah di otak, namun menjadi alat untuk menciptakan berbagai karya fenomenal.

Ketiga, Pantang Menyerah

Jangan menyerah.

Dua kata ini yang menjadi gambaran dari Edison. Tempaan hidup yang keras, dan juga cintanya pada ilmu pengetahuan, menyebabkan dia tidak berhenti sampai menemukan apa yang ditujunya. Kalau seandainya Edison berhenti pada percobaan yang ke 9.999, maka dia tak akan menemukan lampu pijar, dan mungkin orang lain yang akan menemukannya.

Jadi kalau seandainya Anda mengalami kegagalan dalam menguasai bahasa Inggris, ingatlah akan Edison yang mengalami kegagalan yang mungkin bagi manusia biasa pasti sudah menyerah, karena ditinjau dari segi profit, tidak cuan sama sekali.

Tapi ternyata dia terus saja, dan akhirnya menemukan lampu listrik.

* * *

Jadi, apa yang menjadi masalah kita saat ini dikaitkan dengan belajar Bahasa Inggris?

Pertama, Belajar Bahasa Inggris itu bisa dari mana saja dan kapan saja.

Lewat buku, kursus, teman, atau internet. Sekarang ini sudah tidak ada alasan lagi untuk tidak bisa, karena internet sangat mengerti kebutuhan kita yang sekarang super sibuk dengan kerjaan. Dengan internet, kita bisa belajar kapan dan dimana saja. Tergantung waktu bebas kita, entah di pagi, siang, sore, atau malam hari; dan bisa leyeh-leyeh di rumah tanpa harus terjebak macet atau debu-debuan di jalan raya.

Tidak mesti kuliah di fakultas sastra inggris untuk bisa menguasai bahasa Inggris ^_^.

Kedua, Konsisten dalam belajar.

Jangan berhenti. Kadang di dalam proses belajar, ada rasa bosan, capek, dan lain rasa, yang menyebabkan keputusasaan atau niat untuk berhenti. Kalau seandainya Anda mengalami hal-hal ini, wajar saja.

Namun, coba Anda kaji ulang, kenapa Anda ingin menguasai bahasa Inggris.

Apakah Anda ingin lulus ujian TOEFL?

Apakah Anda ingin mengikuti beasiswa ke luar negeri?

Apakah Anda ingin lancar berbicara dalam bahasa Inggris?

Tentukan apa tujuan Anda untuk belajar bahasa Inggris. Tulis target pencapaian di kertas dan kapan ingin terealisasi, lalu tempel kertas itu di dinding atau meja kerja Anda, sehingga Anda akan selalu ingat di saat Anda merasa lelah dan ingin berhenti belajar.

Lalu, buat rencana apa yang ingin dicapai dalam setahun, per enam bulan, per tiga bulan, per bulan, per minggu, dan per hari. Misal, menguasai 600 kosa kata baru dalam setahun, lalu dipecah-pecah dalam enam bulan, tiga bulan, satu bulan, seminggu, dan satu hari, sehingga lebih terarah dan jelas. Tulis di kertas dan tempel di dinding kamar atau meja kerja sehingga selalu mengingatkan Anda untuk tetap konsisten setiap saat demi tujuan yang ingin dicapai.

Ketiga, Jangan menyerah.

Jangan patah semangat kalau menghadapi kondisi yang tidak mendukung proses pembelajaran Anda, misalnya capek sehabis pulang kerja, sehingga malas belajar; atau nilai ujian TOEFL yang jelek terus, padahal Anda sudah belajar maksimal.

Tetaplah fokus. Belajar. Karena gagal itu normal. Seperti halnya belajar gitar atau belajar keterampilan lainnya. Pada awalnya pasti tidak berhasil. Gagal. Tapi tetaplah berusaha. Lakukan saja. Waktu pertama kali memainkan satu lagu baru di gitar, saya banyak menemui kegagalan. Namun karena saya terus menerus melakukan, saya jadi menguasai lagu tersebut.

Belajar butuh waktu, proses yang tak sebentar. Hasil tidak akan mengkhianati proses. Proses, kerja keras yang tinggi, akan memberikan hasil yang juga wow.

Jadi, jangan menyerah. Menguasai bahasa Inggris tidak sesukar membuat roket.

Selamat belajar. Seperti Edison, kita meneladani sikapnya yang tekun dan pantang menyerah. Dengan 3 Kunci Sukses Edison, Anda pasti bisa berhasil juga.

‘Jenius adalah 1 persen bakat dan 99 persen keringat’

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *